Rabu, 08 Maret 2017

ASMIDA: Inspirasi Pagi: Hidup Ini Bagaimana Kita Memaknai.

Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M. Pd

Hidup ini bagaimana kita memaknai, judul ini tiba-tiba terbersit setelah membace beberape koleksi buku secara kilat di TBM Asmida Learning Center tgl 5 maret 2017 dan hasil pengamatan tidak terstruktur penulis di masyarakat secara umum, inspirasi pagi tersebut langsung penulis tulis beserta point-point lainnye kalau tidak akan hilang dengan cepat, secepat datangnye. Tulisan inspirasi pagi tentang "Hidup Ini Bagaimana Kita Memaknai", penulis awali dengan pentingnya kita menjadi diri sendiri, dengan begitu ada rasa bersyukur dengan apa yang telah dianugerahkan, lihatlah ke bawah, dengan begitu kita bisa menyadari masih banyak orang lain yang serba kekurangan, baik dalam materi maupun bentuk fhisik, bersukurlah pada Allah Swt kita masih diberi kelebihan dibandingkan orang yang bekekurangan, bersyukur bukan berarti kita pasrah tapi kita berusaha menggali potensi yang kita miliki, ape yang dapat kite kerjekan bak kate orang melayu,  "tidak malas" karna malas induk dari segala kebodohan, tapi bekerjelah sesuai kemampuan otak dan keterampilan yang dimiliki bukan asik mengeluh menghabiskan waktu sementare kampung tengah (alias perut) mau diisi tidak peduli apekah kampung tengah yang akan diisi jumlahnye banyak atau sedikit, apekah die sudah bekeluarga ataupun tidak sama saja sebab masing-masing orang memiliki kehidupannya masing-masing yang harus dijalani, punya tanggung jawab sebagai suatu komunitas dari suatu sistem keluarga dan sistem masyarakat, berbagai kebutuhan belum lagi untuk kebutuhan sendiri yang sudah pasti tidak bisa diabaikan dsbnye oleh sebab itu jangan pernah malu melakukan hal yang baik dan benar diluar tugas pokok yang telah dipercayakan pada kite apapun pekerjaannya apakah di instansi pemerintah ataupun swasta, tapi pekerjaan tersebut kita lakukan setelah selesai jam wajib sepulang dari bertugas atau bekerje, karna bile kite melakukan saat jam pokok itu sama saje kite tidak amanah dalam bekerje. Banyak pekerjaan halal yang dapat dilakukan asal kite rajin ringan tangan bekerje untuk menambah penghasilan yang penting halal, tidak menipu merugikan orang lain yang pade hakekatnye merugikan diri sendiri, banyak hal sebetulnye dapat dilakukan seperti menanam pokok ubi, bayam, kangkung, lobak dan tanaman pekarangan lainnye paling tidak untuk sayur mayur, bumbu dapur seperti kunyit,lade, lengkuas tak payah membeli, sehingga duit yang ade dapat dipakai untuk kebutuhan lain, malahan hasil tanaman pekarangan tersebut kalau lumayan banyak dapat diletakkan dikedai, duit dapat untuk menambah membeli lauk pauk, selain itu kite mengajarkan pade anggota keluarga pentingnye kerja keras untuk hidup serta menanamkan jiwa wirausaha sejak kecil/dini. Masih terbayang dibenak penulis bagaimane ayahanda H. Raja Muda Depang tidak pernah membuang buang waktu saat berade dirumah Selatpanjang selain membace alquran, juge bercocok tanam, penulis masih ingat dihalaman belakang rumah kami penuh dengan berbagai sayuran dan tanaman lain seperti tebu yang bermacam-macam, durian belande, ubi, keladi, keledek, lengkuas, kunyit dsbnye, kami jarang membeli sayur, ayah tidak pernah malu berkebun walau sisa-sisa kejayaan di masa sedang jaya-jayanye masih ade, begitu juge mak Hj.Tengku Sribanun. Itulah salah satu dari sekian banyak contoh pengalaman penulis kecil diwaktu SD, kadang-kadang penulis ikut kekebun yang yang jaraknye saat itu lumayan jauh dengan menggunakan sepeda phonix, dikebun itu ade sebuah kolam kecik dekat pokok yang telah ditebang, airnye warna merah kami menamai air redang, air die sejuk, disitu  tempat kami nyuci muke, tangan, buah2xan, pokoknye selesai beraktivitas dikebun santai sambil mengokang tebu, keledek mentah hasil kebun yang masih segar, petang baru balek kerumah sambil mengayuh sepeda (belajar) dipegang ayah sedang mak bejalan disamping.  Oleh sebab itu kurangilah diantaranye sifat yang suke meratapi kekurangan sebab dengan meratappun duit tidak akan jatuh dari langit, begitu juge perut tidak bisa kenyang dengan merengut, sementara kehidupan semakin menghimpit. 
Sekianlah mudah-mudahan dapat diambek hikmahnye.

Fhoto dan edit oleh:
 Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M. Pd


Rabu, 01 Maret 2017

ASMIDA: Pemahaman Perilaku Anak Dengan Autisme




Hilir mudik orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah mulai nampak digerahnya siang selesai sholat jumat bagi yang melaksanakannya 17 Februari 2017, selain itu ada juge yang pergi sendiri mengayuh sepeda lengkap dengan pakaian melayu dan kopiah (waduh jadi ingat pemandangan saat penulis jalan2x ke malaysia tapi tempat pastinye tak ingat, waktu itu kami sedang di bus). Setelah meletakkan tas dikelas dari ruang kerja saat istirahat penulis tersenyum melihat mereka menaiki gundukan tanah timbun dekat kantor pakai sepeda, calon-calon pembalap juge nampaknya tapi harus sekolah dulu biar jadi pembalap pintar suaikan....
Penulis mulai meneruskan tulisan yang telah dimulai sejak tanggal 15 Februari 2017 tentang anak penyandang Autisme saat riuh rendah pembalap cilik bereaksi mendaki gundukan tanah timbun sebelum masuk sekolah yang tidak berapa meter jaraknya dari kantor, sedang kalau balek sekolah mulai mengocah air yang tergenang walau sekarang sudah mulai kurang dengan sepatu yang dijinjing dan menyengseng celana atau rok supaye jangan basah hahaha....
Balek ke masalah autisme tadi, semenjak salah satu keluarga dideteksi terkena autisme, bahan yang dibaca semakin bertambah selain buku manajemen, filsafat, matematika, buku pendidikan maupun perundang- undangan salah satu yang menjadi fokus bacaan dan pengamatan penulis diwaktu senggang adalah mengenai perilaku anak dengan autisme, pada tulisan ini penulis tidak mendefenisikan tentang sebab dan mengapa itu terjadi biarlah orang yang lebih pakar menyampaikannya, penulis dalam tulisan ini hanye ingin sedikit berbagi pendapat hasil dari telaah beberapa sumber bacaan serta perbincangan dengan berbagai pendidik yang menangani masalah khusus ini di lembaga pendidikan selama beberapa tahun belakangan ini, penulis  menganalisa serta menyimpulkan dari berbagai sumber tadi apa yang harus dilakukan oleh orang terdekat khususnya orang tua. Pengamatan beberape tahun belakangan ini jujur menurut hemat penulis tidak ada formula tetap saat menangani perilaku anak autisme, tidak ada, mereka  bergerak sangat cepat sementara orang tua khususnya bergerak lambat dengan berbagai kebingungan, dan perdebatan dalam hati antara menerima dan tidak apa yang menimpa pada sianak dan perdebatan terbuka saling menyalahkan antar kedua orang tua yang menyebabkan sianak menyandang autisme, kalau dimisalkan dalam matematika penulis mau mengatakan anak autisme bergerak seperti deret ukur sedang orang tua seperti deret hitung. Seharusnya ini tidak terjadi pada orang tua khususnya saat anak yang dideteksi oleh dokter mengalami gangguan perilaku atau autisme, bersedihlah untuk sesaat sudah itu pikirkan langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk jangka panjang yang tidak bisa dianggap sepele seperti menambah wawasan dengan membaca, berdiskusi dengan dokter yang menangani anak, atau dengan orang tua yang anaknya mengalami hal yang sama, bukan untuk ditiru atau disamakan cara penanganannya karna masing-masing anak autisme tingkatannya berbeda, dengan demikian penanganannya juga beda, ingat ini adalah anak berkebutuhan khusus banyak yang harus disiapkan oleh orang tua perbulan seperti biaya terapi yang biayanya jutaan, belum lagi obat-obatan yang harus dibeli untuk mengurangi sianak menyiksa diri seperti memukul kepala, memukul badan atau menghantukkan kepala dsbnya, setelah itu kita serahkan pada yang punya segala kuasa Allah Swt.
Berikut beberape hal menurut hemat penulis yang harus dipahami tentang perilaku autisme yang penulis simpulkan dari berbagai sumber bacaan dari analisa dan pengamatan tidak terstruktur serta bincang-bincang dengan orang terdekat selain orang tua, sbb:
1. Jangan biarkan anak sendiri, ajak dia bicara walau dia tidak merespon sedikitpun, contoh sederhana panggil nama sianak, misal: “lala...ngape tu....” ( berulang ulang), kalau anak tidak merespon setelah berulang - ulang arahkan pandangan anak ke kita sambil menyebut namanya, misal: “ lala...hei ngape tu” biasanya anak akan ketawa tapi bisa saja tiba-tiba  anak menangis dan mulai memukul mukul wajah.
2. Orang tua harus tau jadwal minum susu atau makan anak, kapan die haus atau lapar dsbnye jangan sampai anak melukai diri dengan memukul-mukul kepala, dagu atau perilaku merusak lainnya, baru sibuk mencari botol susu, siapkan beberapa botol yang bersih, hal ini mengingat hampir tidak adanya komunikasi anak autis secara umum sehingga sulit mengetahui apa yang dibutuhkan atau diinginkan jadi orang tualah yang harus ekstra aktif.
3. Pinggirkan hal yang dapat melukai anak yang membuat dia tidak nyaman,anak autisme biasanya kaget dengan perubahan, biasanya dia akan menyingkirkan barang- barang yang menurut dia mengganggu misal: hiasan bunga, bantalan kursi, alas meja dsbnya.
4. Walau tidak bicara tapi anak autisme memperhatikan kegiatan orang disekitarnya, nampaknya mereka sangat merekam apa yang dilihatnya secara terus menerus, salah satu contoh dirumah ada keluarga terdekat sering membaca buku maka sianak autisme walau bukan hari yang sama juga akan mengambil buku, walau dia tidak tau untuk apa, namun bagi orang tua khususnya ini modal tentang kepekaan anak, melatih gerak tangannya dsbnya.
5.Bagi rumah yang bertingkat harus lebih waspada karna anak autisme bisa saja menaiki tangga menuju lantai atas sendirian, dia meniru anggota keluarga dirumah yang berulang kali menaiki tangga, kalau anak biasa mungkin masih bisa ditolerir sebab anak mampu merespon, berteriak atau paham kalau dipanggil kalau anak autisme dengan dunianya sendiri, sulit berkomunikasi. Oleh sebab itu dibutuhkan kedekatan anggota keluarga khususnya orang tua sehingga diharapkan dapat memahami bahasa anak penyandang autisme.
6. Jangan banyak berharap akan kesembuhan total, tapi berharaplah agar sianak mampu mandiri sebab tidak selamanya orang tua sehat, tidak selamanya kehidupan seimbang semua pasti ada pasang surut kehidupan, inilah yang wajib dikedepankan dan dipahami orang tua khususnya.
7. Tidak ada kata lelah dan putus asa semua harus dijalani dengan ikhlas dan tawakal, banyak membaca perkembangan terbaru untuk ditelaah disesuaikan dengan kondisi sianak, bukan diterima begitu saja, baru-baru ini masih dibulan februari minggu kedua penulis membaca bahwa salah satu untuk mengurangi perilaku merusak diri anak autisme adalah dengan media gambar misal: orang tua atau orang terdekat dengan anak membuat gambar di kertas putih atau bewarna dihadapan anak secara berulang.
8. Berikan rambu-rambu pada anak mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan secara bertahap dan berulang ulang sejak dini, beri kode tersendiri agar anak autisme mampu mengerti walau sangat-sangat lambat dan butuh kesabaran yang luar biasa yang pasti akan memakan waktu yang tidak bisa dibatasi.
9. Informasikan pada anggota keluarga inti kondisi anak, sehingga anggota keluarga tidak bertanya tanya mengapa sianak kadang-kadang menangis tanpa sebab, memukul mukul kepala, mengeluarkan suara aneh, berjalan tidak berarah, tidak menatap, tidak fokus, membanting hal-hal yang menurut pandangan anak autisme aneh tidak biasa dilihatnya dsbnya begitu juga dengan tetangga, sampaikan kondisi anak kita apa adanya saat kita membawa anak keluar rumah misal jalan-jalan di pekarangan menengok tanaman, atau ketempat umum atau ke ketaman kota dsbnya,  inilah yang dilakukan salah satu orang tua beberape tahun lalu saat  penulis mengikuti seminar tentang autisme, " inilah anak khusus kami ucap sang ayah yang menggendong sang anak berkebutuhan khusus saat menyalami penulis, walau tidak dibilangpun penulis maupun yang lain sudah tau dia anak khusus tapi tetap sang ayah memperkenalkan keberadaan sang anak ".
10. Walau peran kedua orang tua sangat dibutuhkan dalam memperhatikan perilaku anak autisme saat mereka dirumah setelah melakukan terapi dibawah pengawasan dokter, namun anggota inti khususnya yang masih bertenaga, yang masih muda diharapkan membuka mata hati berpartisipasi ikut memperhatikan gerak gerik anak yang kuat yang sulit dikontrol oleh yang sudah berumur paling tidak agak terbantu sehingga yang telah berumur atau tua misal omanya dapat beristirahat, sedangkan untuk jangka panjang orang tua harus mencari penjaga tersendiri untuk mengawasi sianak untuk kesehariannya, selain dari oma atau anggota keluarga inti yang juga memikirkan membantu masalah keuangan yang tidak sedikit, agar cucu/kemenakan/saudare bisa mandiri saat beranjak besar, belum lagi berbagai kebutuhan dasar lainnya yang harus dipenuhi, oleh sebab itu disedikit waktu yang dipunyai hendaknya anggota keluarga inti yang lebih muda menggunakan dengan sebaik baiknya menolong ape yang dapat kate orang melayu, misal: saat oma sholat atau makan atau meluruskan badan karne penat,  kita mengambil alih membantu melihat dan mengajar anak penyandang autisme yang dengan cepat bergerak merusak barang atau menyakiti diri, ajar dia agar fokus walau hanya mengucapkan sepatah kata, sebab semakin sianak besar, dia semakin sulit dikontrol, ingat ini anak penyandang autisme bukan anak biasa.
11. Orang tua khususnya harus tega dan tegar saat mengajarkan anak autisme, jangan dibiarkan mereka berperilaku salah dengan alasan kasihan, ingatlah mereka semakin besar, mereka tetap harus tau tata krama, itulah pentingnya anak autisme diterapi dengan para ahlinya dan diperlukan sifat konsisten orang tua melaksanakan petunjuk dan memantau perkembangan anak autisme.
12. Mengingat biaya yang sangat besar, baik untuk terapi apalagi saat anak masuk sekolah khusus, perencanaan sejak dini sudah harus dipikirkan oleh kedua orang tua, mungkin kalau anak biasa saat anak terbentur dalam hidup yang dijalaninya, dia masih bisa berpikir (apalagi kalau anak telah didik sejak kecil untuk bertanggung jawab terhadap apapun yang dilakukan dengan segala konsekuensi yang akan dihadapi),  tapi itu sangat sulit berlaku untuk anak autisme, yang seumur hidup nampaknya harus diterapi walau intensitasnya tidak sebanyak waktu dia masih kecil.
Akhirnya setelah segala upaya, daya, tenaga dikerahkan, serta doa, kita hanya mampu berserah pada pemilik jagad raya beserta isinya Allah Swt.

Berikut sebagai ilustrasi gambar si khusus SQS dalam berbagai kondisi.

GB. 1 
SQS Berjalan Mulai Kuat, Semangat...

Berjalan sudah mulai kuat, tapi tetap harus dipantau kalau tidak mereka meluncur dengan cepat dengan tangan menggapai membuang apa yang tidak mereka kenal sebelumnya dalam keseharian anak autisme seperti taplak meja, porselin bunga, bantalan kursi pada beterbangan dsbnya, disinilah salah satu gunanya terapi sehingga orang tua khususnya tau cara menangani perilaku anak autisme.


GB 2. 
SQS Dalam Tatap Nanar

Dalam tatap nanar, tidak ada yang tau apa yang dipikirkan anak autisme, mereka memang sulit berkomunikasi, bersosialisasi, tidak bisa fokus, perkembangannya tidak bisa ditebak oleh sebab itu orang tua harus bergerak cepat bagai deret ukur bukan deret hitung.

GB 3. 
SQS Dalam Senandung Oma

Dalam senandung oma sudah agak tenang tidak mengamuk walau sesaat namun lumayan untuk mengulang ulang apa yang dikatakan dokter waktu terapi di salah satu rumah sakit swasta yang menangani anak berkebutuhan khusus di Pekanbaru misal dengan menyebutkan nama anak, kalau mulai mengamuk bilang "tidak" sambil melihat ke anak autisme.

GB 4. 
SQS Sudah Mampu Naik Tangga Sendiri, Wau Keren...

Ternyata feeling penulis benar, dimana saat sianak autisme melihat orang lalu lalang kelantai atas melalui tbm alc, penulis yakin sianak akan naik ke tangga suatu saat, rupanya benar beberape hari setelah itu sianak yang nampaknya hanya mondar mandir membuat seiisi rumah terkejut dia sudah sampai ditangga ke empat sendirian ( suatu kemajuan memang tapi masalahnya anak belum fokus) dan hari berikutnya si anak sudah mampu naik tangga hampir sampai ke lantai atas yang lucunya dengan cara berjalan mundur hehehe syukurlah cepat diketahui kemudian dengan diawasi oma yang baru selesai sholat, sianak naik tangga dengan bergantung pada pagar dan menarik tangam oma yang pensiunan salah satu instansi pemerintah di salah satu kabupaten di Provinsi Riau, kalaulah sering-sering  naik tangga tentu tidak akan kuat inilah pentingnya pengasuh tersendiri yang paham akan kondisi sianak bukan sembarangan orang, sebaiknya yang mempunyai ilmu tentang anak penyandang autisme.

GB 5.
SQS Dalam Senandung Oma Belajar Fokus Salam....

Saat amukan sudah bisa dikendalikan berbagai cara dilakukan kembali untuk belajar fokus, dalam gambar SQS dengan bantuan oma belajar mengangkat tangan untuk bersalaman dengan anggota keluarga yang ada disekitar.

GB 6.
SQS Dalam Senandung Oma, Sesaat Setelah Mengamuk

Tidak tau waktu pasti sianak akan berhenti mengamuk melukai diri dengan memukul kepala, menghantukkan kepala, telengah sedikit mereka sudah mulai dengan perilaku tersebut malahan semakin kuat, ya Allah betul-betul memilukan tapi orang tua khususnya harus tegar, kuat, sabar melebihi apapun tapi tidak membiarkan perilaku tersebut karna kalau itu terjadi yang sangat kewalahan saat anak makin besar adalah orang tua itu sendiri, kalau keluarga sifatnya membantu meringankan beban dipundak terutama segi keuangan, selain itu orang tua harus ikhlas, walau tidak semudah mengatakannya tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi dan dipertanggung jawabkan.


GB 7.
SQS saat tenang bermain dengan abang

Saat tenang anak berkebutuhan khusus bisa lama berdiam diri, kadang-kadang ketawa, berputar- putar dan tiba-tiba teduduk dekat orang yang didekatnya, dalam gambar nampak SQS dipangkuan abang, kesempatan begini ajak sianak khusus berbicara walau dia tidak mengerti, sampaikan cara terapi bicara yang telah diajarkan dokter ahlinya saat terapi pada anggota keluarga lainnya supaya ada pemahaman jadi tidak diam saja melihat perilaku anak berkebutuhan khusus.

Fhoto oleh: 
Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M.Pd
Pekanbaru, 1 Maret 2017

Minggu, 05 Februari 2017

ASMIDA: Bohong itu permulaan dari kejahatan: siapa yang bertanggung jawab

Bohong itu permulaan dari kejahatan: Siapa yang  bertanggung jawab

Oleh:
Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M. Pd


Mau tidak mau suka tidak suka pada dasarnya berbohong itu merugikan diri sendiri, merusak diri sendiri, apapun alasan dan bentuknya yang dimulai dari kecil sampai besar, berbohong itu permulaan dari kejahatan. Oleh sebab itu saat melihat anak-anak mulai curang melakukan hal2x yang belum sepenuhnye mereka ketahui karna belum tercerna oleh akal pikiran anak-anak segeralah diluruskan ditegur dan jangan dibela kesalahannya sehingga tidak menjadi pembiasaan anak untuk melakukan hal yang buruk serta tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukan, selain itu jangan pernah melakukan pembelaan atas kesalahan anak karna itu akan berakibat fatal terhadap perkembangan si anak selanjutnya saat mereka seutuhnya menjadi bahagian dari sistem masyarakat. Berdasarkan pengamatan tidak terstruktur penulis, sangat jarang saat dewasa, anak yang suka berbohong berubah, malahan mereka semakin mahir bersandiwara memutar balikkan fakta untuk membenarkan perilaku mereka padahal mereka telah melakukan kesalahan, tentunya dengan tujuan supaya dia bebas dari hukuman misalnya hukuman dari orang tua, namun dia lupa seperti kate orang melayu "sepandai pandai tupai melompat pasti terjatuh juge" hal ini mengindikasikan selihai apepun orang berbohong pasti akan ketahuan, dan ingatlah Satu yang tidak akan pernah bisa dibohongi dan dari segala lini Die mengetahui, adekah yang bertanye siapekah itu? Die adalah sipemilik segala bentuk hukum yang nampak maupun tidak yaitu Allah Swt.

Kembali kepada tabiat suke berbohong tadi, penulis ingin mengambil suatu contoh sederhana tentang permainan kartu anak-anak yang terdapat angka-angka yang dapat digunakan sebagai salah satu media pembelajaran, berikut ilustrasi yang diamati saat sianak mulai berlaku curang dalam bermain misal: 1) memilih kartu yang angkanya tinggi untuknya sedang untuk yang lain atau lawan mainnya dipilihnya kartu yang rendah, sewaktu hal tersebut diketahui sianak berdalih mengatakan tidak; 2) kemudian kartu dikocok lagi, namun sianak tetap melakukan hal yang sama dengan trik yang berbeda, setelah kartu dibagikan ternyata kartu sianak lebih banyak,  kok bisa, bukankah seharusnya jumlahnya sama, saat dikatakan dia memilih dan menumpuk kartu, sianak tidak mengaku tapi setelah ketahuan akhirnya sambil ketawe penulis mengingatkan sehingga akhirnye die menyatakan "kawannya seperti itu" o.....walau anak tidak sadar akan perbuatannya yang mulai melemparkan kesalahan pada orang lain supaya perbuatan salah tersebut tidak ditimpakan pada dia tapi hati-hati ciri-ciri awal perilaku tidak bertanggung jawab yang harus segera di berantas.
Disini penulis cube fokuskan, betapa cepat sikap meniru sianak terhadap perilaku kawan-kawan sepermainannya baik disekolah maupun diluar sekolah dan penulis juga yakin dari lingkungan sianak khususnya dengan orang tua walau dalam konteks yang berbeda. Melihat situasi tersebut kemudian sambil senyum penulis menjelaskan bahwa "pembagian kartu jumlahnya harus sama, nanti sama2x  habis, jumlah yang tertinggi sebagai pemenang", selanjutnya penulis mengingatkan didalam suatu permainan harus ada yang kalah dan menang", "kalah tapi kita bermain jujur itu baru bagus dari pada kita menang tapi curang" ucap penulis. Kemudian sianak berdalih menyatakan "nanti dia kalah, kawannya disekolah juga seperti itu". Oo....jangan ditiru, pokoknya tidak boleh curang harus jujur nanti Allah marah. Syukurlah sianak bercerita kondisi kawan sepermainannya sehingga penulis cepat tau begitu juge pelajaran sekolah. Kembali ke kata bohong tadi, pertanyaan, dari manakah seorang anak pandai berbohong dan memutar balik cerita yang mungkin dulu tidak terpikir oleh orang tua atau masyarakat yang sering terkejut melihat situasi ini dan selalu berkeluh kesah tidak peduli apepun tingkat pendidikan,ekonomi dsbnya salah satu sudah terjawab. Menurut penulis berbagai kemungkinan bisa saja terjadi salah satunya seperti cerita diatas dimana lingkungan pergaulan anak, siapakah kawan sianak, apa yang ditonton anak secara terus menerus dan berlama lama didepan layar TV khususnye apakah ada yang menemani saat sianak didepan TV apakah ada orang tua/kakak/abang/uwak/tante dsbnya, kemudian kalaupun ada apakah mereka hanya duduk manis saat melihat tayangan yang bukan merupakan tontonan sesuai umur sianak, kalau begitu adanya sama saja orang tua membiarkan anak menonton sendiri dan menelan bulat bulat - bulat isi acara TV atau media lainnya tanpa dicerna karna memang sianak belum punya kemampuan untuk mencerna tayangan yang bukan tontonannya dengan berbagai bahasa gaul atau ejekan, olokan permainan. 

Selain itu hal yang sering kite dengar tanpa disadari berbohong dimulai dari orang tua, contoh saat ade orang mencari orang tue kerumah, mungkin karna lagi malas menerime tamu tidak jarang orang tua mengatakan " sebut ayah /ibu tak ade", padehal tidak ada salahnye orang tue mengatekan saat tamu didepan rumah atau dekat pagar bilang : ayah/ibu ada, sedang istirahat tidak bisa diganggu telpon aja nanti", kan selesai selain itu kita juga mengajarkan pada tamu tata krama kalau mau datang kerumah orang lain membiasakan diri menelpon dulu atau jauh2x hari membilang akan berkunjung atau bertamu sehingga tamu mengetahui kesediaan siempunya rumah mau menerima tamu atau tidak, karna orang mau beristirahat, orang punye privacy untuk diri sendiri, dan lain sebagainya. Dari sedikit permasalahan yang nampaknye sederhana namun  tidak sesederhana akibat yang ditimbulkan untuk jangka panjang itu siapakah yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan jiwa sianak? Penulis yakin kita sepakat jawabannya adalah orang tua. Orang tualah pondasi pertama pendidikan anak di keluarga, orang tualah yang diamanahkan Allah Swt sebagai pendidik utama akhlak anak, ditangan orang tualah pembelajaran awal sianak tentang realita kehidupan yang akan dihadapi seiring perjalanan waktu, makanan lahir berupa pendidikan umum dan makanan jiwa berupa pendidikan agama yang terpancar diantaranya dari pola pikir anak, sikap bertanggung jawab terhadap apapun yang dilakukan bukan melemparkan pada orang lain atau menyalahkan orang lain. Bukankah semuanya nanti akan dipertanggung jawabkan dihadapan sang pemilik seluruh jagad raya beserta isinya Allah Swt, oleh sebab itu jangan pernah mengajarkan kebohongan apapun bentuknya pada anak, karna tanpa diajarpun bibit kebohongan itu menurut hemat penulis sudah ada pada tiap manusia , tidak peduli apapun status sosialnya hanya tingkat kemunculannya berbeda.

Sabtu, 21 Januari 2017

ASMIDA: Tegas Dalam Aqidah: Pembelajaran dari Buya Hamka

Tegas Dalam Aqidah: Pembelajaran dari Buya Hamka
Oleh:
Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M. Pd / Fhoto Tahun 2016 saat Menunaikan Ibadah Haji, Terimekasih Allah

Tegas dalam Aqidah, merupakan hal yang paling pokok yang disampaikan dalam ceramah agama yang penulis simpulkan saat mengikuti acara ceramah di stasiun tv one pada hari sabtu tgl 21 januari 2017, kalimat ini mengantar penulis pade fatwa yang disampaikan oleh Buya Hamka diantaranya dalam situs http://tazkiyyatunnafs.blogspot.co.id/2009/01/tegas-dalam-aqidah yang judulnya sama dengan yang penulis cari yaitu “tegas dalam aqidah”, disinilah penulis membaca tentang fatwa pelarangan bagi muslim mengikuti perayaan natal bersama, hal tersebut juga didapat dalam situs http://www.nahimunkar.com/fatwa-tegas-dari-ulama-buya-hamka/ akan ketegasan buya dalam menegakkan aqidah seperti dalam fatwanya untuk melindungi aqidah ummatnya. Saat berkhutbah di Mesjid Al- Azhar Buya Hamka mengingatkan kafir hukumnya jika mereka mengikuti perayaan natal bersama. Ketegasan dalam aqidah membuat seorang Ulama Buya Hamka mengundurkan diri dari jabatan ketua umum MUI dari pada mencabut fatwa tersebut, hal ini juga ditulis di Wikipedia tentang Abdul Malik Karim Amrullah-Wikipedia. Keteguhan seorang Buya Hamka inilah yang patut menjadi contoh pembelajaran dalam menyikapi berbagai gelombang hingar bingar negeri belakangan ini yaitu Tegas Dalam Aqidah.

Rabu, 18 Januari 2017

ASMIDA: Ruas: Banyak hal yang tidak bisa dipelajari

Ruas: Banyak hal yang tidak bisa dipelajari
oleh:

Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M. Pd, fhoto kenangan saat menunaikan ibadah haji th 2016, terimakasih Allah.

Banyak hal yang tidak bisa dipelajari diberbagai bangku pendidikan baik formal maupun non formal tapi dia ada dan tidak akan pernah hilang selagi Allah masih memberikan dan mengizinkan kita untuk menikmati dunia ini saat kita singgah dengan segala konsekuensinya, mungkin ade yang bertanye, " begitu banyakkah atau seberape banyak",  pertanyaan yang manis tapi tetap tidak menghasilkan yang manis, " mengape" ya karene memang tidak manis, bukankah terlampau manis pade akhirnye menjadi pahit.


Sabtu, 31 Desember 2016

ASMIDA: Tahun 2016 Hanya Menghitung Waktu

Tahun 2016 Hanya Menghitung Waktu
oleh:

Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M.Pd

Tahun 2016 hanya menghitung waktu setelah itu pergi meninggalkan berbagai kenangan dengan berbagai catatan pahit maupun manis untuk direvisi di tahun 2017, yang telah baik tentunya lebih ditingkatkan lagi sedang yang buruk diperbaiki menjadi baik, namun semuanye itu berpulang kepade individu masing-masing, bukankah hidup itu pilihan untuk dipertanggung jawabkan dihadapan pencipta pilihan itu sendiri Allah swt, semua ada konsekuensinya.


Kamis, 29 Desember 2016

ASMIDA: Suara Air Menderu

Kenangan penulis saat liburan di Bali

Suara Air Menderu
oleh: Dra. Hj. Raja Muda Asmida, M. Pd

Suara air menderu mencurah membasahi bumi yang mulai kering, Alhamdulilah hujan, walau sejenak deras hujan mampu membuat pokok palam menari bahagia mengikuti alunan angin yang bernyanyi dalam bersame hujan, bagai hentak tari serampang due belas, tak mau kalah pokok besarpun bergoyang pelan, kedepan kebelakang, kanan, kiri. Allah maha kuase pokok setinggi rumah dengan daun-daun dan ranting-ranting yang nampak kokoh bergerak membentuk sudut tumpul, ya Allah siape yang bisa menggerakkannye kalau tidak sang maha pemilik jagad raya beserta isinya Allah swt, yang dengan kemaha kuasaan ilmuNya membuat tarian untuk nyanyian pohon  di heningnye siang, kalau begitu ape yang harus manusia sombongkan, ilmu kite hanyelah bagai sebutir biji sawi malah lebih kecil dari itu mungkin saje mendekati nol, tapi manusia harus punye ilmu karna itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lain ciptaanNya. Namun itulah rahasia Allah yang menciptakan manusia dengan berbagai kemampuan dan berikhtiar sesuai kemampuan dan kapasitas otak yang disediakan Allah swt untuk setiap umatnya dan tidak pernah sama walau manusia menyamakan, itu hanyalah polesan sebab menurut penulis saat semuanya sama pada dasarnya yang sama itu tidak ada.